BUNG KARNO PEMANTIK MUNCULNYA BERIBU MAKAM MONUMENTAL DI TANAH BATAK ? (Kini Tugu-tugu Makam Samosir Ditelaah Dalam Disertasi Antropologi di Unair)

Jika orang bukan Batak ke Samosir, pemandangan yang paling unik tidak ada duanya ditempat lain adalah taburan makam makam keluarga Batak yang megah, kadang menjulang tinggi, yang dinamakan tugu. Makam makam itu berisi tulang belulang keluarga yang dimakamkan dengan upacara. Jumlahnya terus menerus bertambah dan bagi orang luar, belum banyak risalah akademik yang bisa dibaca berkaitan fenomena ribuan Tugu di Tanah Batak ini. Tapi apa kaitannya dengan Bung Karno?

Prof.Hotman Siahaan yang budiman, guru besar Unair menetapkan patik pekan.lalu (28.2.2017) jadi salah seorang penguji naskah disertasi yang dia sebagai promotornya, tentang keberadaan tugu ( makam orang Batak, bukan tugu pahlawan pejuang bangsa) di Pulau Samosir. Tak faham kenapa patik di tunjuk Prof.Hotman padahal bukan ahli Batak, hanya kebetulan punya ribuan arsip, dokumen, buku tua dan foto dari Jerman dan Belanda tentang Tanah Batak di masa lalu Ataukah Prof Hotman ingin patik membedahnya dari perspektif historis? Tapi inilah, dalam arsip dan foto lama tidak ditemukan tradisi orang Batak mendirikan tugu sebagaimana yang dikenal sekarang. Makam dengan tugu merupakan dua kategori yang berbeda. Makam untuk jenazah orang yang sudah meninggal, sedang tugu untuk menyimpan tulang belulang yang diangkat dari makam sebelumnya, diletakkan di tugu, diberi penghormatan, diupacarai, menjadi simbol status keluarga yang membuatnya. Tapi tugu makam juga kan? Katakanlah makam yang monumental.

Saat diminta Prof Hotman sebagai penanggap pertama, patik sampaikanlah belum dimasukkannya dalam disertasi ini debat antara Sitor Situmorang dan Kartini Sjahrir (Panjaitan) tentang asal usul Tugu orang Batak di majalah Prisma tahun delapan puluhan. Kartini mengkritik tradisi pendirian tugu sebagai fenomena baru, yang muncul sejak tahun 1960 an. Sitor katakan tidak baru karena muncul dari tradisi bermarga lewat makam marga yang disebut tambak. Dalam bukunya Toba Na Sae, tradisi tambak ini juga disinggung Sitor. Tapi tambak bukan seperti tugu sekarang ini, hanya berupa gundukan tanah. Jadi sepakatkah tugu, makam monumental yang kini jumlahnya ribuan itu baru muncul di tahun 1960 an?

Prof.Hotman menyetujuinya, bahkan di forum itu dia katakan tugu pertama orang Batak adalah makam Si Singamangaraja 12 di Balige. Syahdan Bung Karno waktu ke Balige minta makam yang ada di Tarutung di pugar dan diberi kehormatan sebagai.layaknya pejuang bangsa. Lantas panitia memindahkan tulang belulang Singamangaraja 12 yang ada di Tarutung ke Balige. Dari.makam tugu Singamangaraja 12 inilah konon muncul tradisi baru pendirian tugu di kalangan orang Batak Toba beragama Kristen. Benarkah demikian? Adakah sumber sejarah yang lain?

Tapi apa tafsir antropologis dari maraknya pendirian tugu di Tanah Batak ini dan bagaimana orang luar memahaminya? Dalam disertasi ini disebut gereja sebenarnya tidak menyetujui pendirian tugu. Tapi eloklah kita tunggu , kapan disertasi yang ditulis Corry, antropolog yang dosen Universitas Simalungun Pematang Siantar ini , menjadi buku dan jadi referensi untuk memahami dimensi perubahan pada orang Batak dalam berhubungan dengan leluhurnya (Ichwan Azhari).

Add Comment