JOKOWI , TITIK NOL ISLAM DAN HALAMAN BELAKANG BARUS

Presiden Jokowi kunjungi kompleks makam Islam kuno di Barus, mencanangkan titik nol Islam dan banyak orang terkesima. Mengagumkan karena ini pertama kali seorang Presiden mau datang ke kompleks makam kuno Barus, mencanangkan dan berimplikasi pada sesuatu yang lebih besar dari sekedar ziarah ke batu nisan.

Harian Kompas (25.3.2017) memuat headline foto Presiden RI sedang berjalan di kompleks Makam Mahligai dengan tambahan teks “Salah satu nisan di pemakaman itu bertarikh 48 Hijriyah atau 661 Masehi. ” Tentu ini salah satu contoh jurnalis kita bahkan dari koran papan atas tidak sempat klarifikasi ke sumbernya : mana fakta nisan 48 H itu dan apakah benar nisan itu ada di kompleks makam tersebut. (Nisan dimaksud sebenarnya bertahun 800 H dan sekarang nisan nya masih ada di Museum Sumut di Medan) Tapi yang paling penting dari kekeliruan ini sebenarnya : kelambanan instansi pemerintah yang menangani sejarah dan arkeologi di Indonesia dalam mengkomunikasikan riset terbaru tentang Barus kepada publik. Barus yang menjadi magnet perhatian nasional dan internasional nyaris tanpa informasi ilmiah dan hanya mengandalkan tradisi lisan, pseudehistoris serta pemikiran spekulatif lebih setengah abad yang lalu. Seakan Barus difahami tanpa sains.

Tapi untunglah Jokowi datang ke Barus bukan untuk meneguhkan kebenaran nisan dengan tahun gelap itu, tapi untuk meresmikan Tugu Titik Nol Pusat Peradaban Islam Nusantara (bukan titik nol masuknya Islam seperti yang dikacaukan banyak pemberitaan media). Dua hari sebelumnya dalam ruang opini Kompas 23.3.2017, Teuku Kemal Fasya menurunkan tulisan berjudul “Titik Nol Islam Nusantara” dan.menyebut Pasai lebih dulu dari Barus. Kehebatan Barus justru setelah Pasai meredup. Barus, sebagaimana ditunjukkan ribuan nisan yang ada di situ, memperlihatkan ramainya ulama Islam pada abad ke 13 dan bukan abad ke 6 atau ke 7. Kekeliruan dari mana “nisan gelap 48 H” patik uraikan dalam tulisan di Waspada hari ini (25.3.2017) dengan judul “Barus : Titik Nol (Gerakan Penyelamatan Jejak Sejarah Islam di Indonesia)”. Sebelumnya juga di postingan fb ini kemarin.

Arti.penting kedatangan Jokowi ke Barus diharapkan bisa menggerakkan studi dan penyelamatan situs situs sejarah Islam, tidak hanya di Barus tapi di seluruh Nusantara. Dari titik nol itu tetap bisa diteliti dari mana asal mula masuknya Islam di Nusantara, perkembangannya dan apa implikasinya bagi kekinian kita.

Terkesima juga atas gerakan politik Islam Jami’iyah Batak Muslim Indonesia (JBMI) yang berhasil mendatangkan Jokowi ke Barus dan meresmikan tugu titik nol itu. Tapi jangan sampai kunjungan ini hanya menguatkan citra yang selama ini terbangun tentang Barus : ada mitos sejarah Islam kuno, ada nisan nisan unik Papan Tinggi dan Mahligai yang tua (walau sebenarnya tidak terlalu tua, nyaris semua nisan sekitar abad 13) lalu ada kunjungan pejabat yang melintas sekedar program ikut jadi “wisatawan nisan” dan kemudian melupakan situsnya secara keseluruhan. Mudah mudahan gerakan ini tidak hanya lintasan sesaat lalu Barus kembali diterlantarkan. Juga diharapkan bisa menggerakkan instansi instansi pemelihara situs sejarah seperti Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB yang kantornya jauh di Banda Aceh sana). Diharap Direktorat Cagar Budaya dan Permuseuman Kementrian Dikbud di Jakarta bisa bangun dari tidur panjangnya tentang Barus .

Lihatlah halaman belakang Barus, ratusan nisan nisan patah berserakan, makam Tuan Ibrahim Syah yang terjepit mini market dan bersebelahan dengan kandang ternak kaki empat, nisan yang harus diikat warga ke batang kayu karena segera hanyut di bawa arus sungai, riset ilmiah Barus yang tidak menyebar ke publik, Museum Barus Raya yang gak jadi jadi karena belasan tahun alami konflik internal, temuan temuan arkeologis internasional yang disimpan digudang bak rumah hantu dan sudah banyak berhilangan. Marilah lihat halaman belakang Barus dari titik nol itu (Ichwan Azhari)

sumber : https://www.facebook.com/Dr.IchwanAzhari/posts/328379424226909

Add Comment