KAMPUNG ISLAM DI BALI : MENDENGAR SEKILAS PERGESERAN “SAUDARA ISLAM” (NYAMO SLAM) MENJADI “ORANG ISLAM” (JELMO SLAM)

Hari ini (8.5.2017) patik mengunjungi Singaraja, kawasan dengan kontak internasional paling penting dalam sejarah kuno Bali. Wilayah pantai utara Bali ini sejak berabad abad yang lalu menjadi wilayah lintasan perdagangan dan pintu masuk berbagai pengaruh peradaban luar, termasuk Islam sejak abad 14 dan Hindu yang membesar sejaman dengan era masuknya Islam. (Walau dalam satu eskavasi jejak India kuno abad 2 ditemukan di kawasan ini). Di awal kemerdekaan RI, propinsi Bali yang masih bernama Sunda Insel, ibukotanya adalah kota tua Singaraja ini (yang masih kita lihat bangunan bangunan kuno gaya kolonialnya) yang kemudian redup setelah ibukota pindah ke Denpasar, pintu baru raksasa wisata dunia yang meresahkan sejarah Bali.

Dan pagi tadi pukul lima subuh dari kamar 207 hotel Puri Bagus Lovina Singaraja, patik dengar suara azan yang syahdu di Pulau Dewata ini. Inikah suara azan dari keturunan 40 pasukan Majapahit Islam abad 14 di kampung muslim Gelgel, menyebar ke kampung Pegayamanan dekat Singaraja ini? Mengapa Islam diterima raja raja Bali, diberi kampung, dilindungi dan kemudian dijadikan saudara di pulau Hindu ini? Kawin mawin pun terjadi , berabad abad orang orang Bali Hindu menyebut mereka saudara Islam (Nyamo Slam). Berbagai kebersamaan hidup, persahabatan atau bahasa politik kini “toleransi” yang mengagumkan antara “Islam-Hindu” terpatri dalam banyak memori, tradisi lisan bahkan manuskrip Lontar di Utara Bali ini. Nama nama muslim mereka pun memakai identitas Bali, ada Ketut Abdurrahim, Made Abdullah ada Putu Sitti Aisyah

Sejarah Islam di Bali yang belum banyak ditulis membuat patik ingin sekali mengunjungi kampung Nyamo Slam saat berada di Singaraja beberapa hari ini. Banyak pertanyaan yang menggantung, jika, seperti disebut dalam buku peneliti LIPI , Islam dan Hindu masuk ke Bali dalam waktu hampir bersamaan, kenapa Islam tidak berkembang di Bali? Jika di Jawa ada Wali Songo dan di Bali ada Pitu Songo, kenapa yang di Jawa sukses dan di Bali tidak? Uniknya salah satu penyebar Islam legendaris di Bali justru seorang Cina bernama The Kwan Lie yang makamnya di keramatkan dan petang ini sempat patik kunjungi.

Lalu orang yang tertarik pada “multikultumuralisme” Bali melakukan kunjungan dan studi perbandingan ke Singaraja, beberapa workshop dan seminar dilakukan di sini.

Dan pagi ini saat bincang bincang dengan beberapa gurubesar di Pasca Sarjana Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja patik dapatkan lagi suara yang menyebut, saat Bom Bali meledak, orang Bali tidak menuding Islam sebagai pelaku, apalagi para “Nyamo Slam” mereka. Mereka justru bertanya pada Dewata, apa yang terjadi pada Bali yang damai, apa kesalahan Bali?

Tapi apakah “toleransi Islam-Hindu” di kampung kampung Islam yang berlangsung beratus tahun, kini masih bertahan? Beruntung patik hari ini bertemu dan berterimakasih sekali pada guru besar antropologi Bali , Prof.Dr. Nengah Bawa Atmadja yang menghadiahkan patik beberapa bukunya dan (walau dalam pertemuan singkat) menyampaikan hal hal mendalam tentang “toleransi antar umat Islam dan Hindu” yang bergeser. Ada gejala katanya, Nyamo Slam (saudara Islam) berubah menjadi Jelmo Slam (orang Islam), Islam sudah menjadi satu kategori, satu identitas baru, yang bukan lagi Nyamo (saudara). Dunia berubah begitu cepat, ummat Islam-Hindu pun berubah, simpul simpul toleransi Bali mulai berubah.

Apakah yang terjadi di Bali ini terjadi juga dalam konteks “toleransi Islam-Kristen” di Tanah Batak dan Karo Sumatra Utara, yang memperlihatkan “legenda toleransi” itu mulai bergeser? Diskusi panjang belum selesai, tulisan ini pun belum selesai.

Pantai Utara Singaraja yang beratus tahun tempat melintasnya kapal kapal kuno pembawa jejak peradaban dari luar tak bisa menjawab pertanyaan sejarah, pun dalam imajinasi. Dan pagi usai subuh ini patik bersama ratusan wisatawan asing, naik perahu melihat lumba lumba bermain di laut bebas pantai utara Singaraja. Ah refreshing sekedar melihat jejak ikan lumba lumba purba, belum sampai ke jejak kisah kapal kapal kuno untuk tafsir sejarah Indonesia yang rumit (Ichwan Azhari)

sumber : https://www.facebook.com/Dr.IchwanAzhari/posts/350352905362894

Add Comment