RESTO SEBAGAI GALERI SEJARAH : MENATAP SURAT BUNG KARNO DI RUMAH Tjilik RIWUT PALANGKARAYA

Bulan Maret ini (11-12 Maret 2017) patik mengunjungi Palangkaraya dan berkesempatan ke memorial tugu Bung Karno. Salah satu gagasan besar Bung Karno adalah memindahkan ibu kota RI dari Jakarta ke Pontianak. Saat keruwetan, kemacetan kepadatan ibu kota RI Jakarta kini mengarah ke jalan buntu , banyak pihak kembali melihat gagasan Bung Karno di Palangkaraya.

Tapi yang hendak patik kisahkan adalah kunjungan patik ke Resto Rumah Tjilik Riwut, tokoh penting RI di Kalimantan yang banyak kontak dengan Bung Karno dan rumahnya kini dijadikan Resto yang sangat menarik. Sebuah restoran yang sangat mengesankan dan bisa dijadikan inspirasi untuk membangun hal yang sama di kota kota lain di Indonesia. Inspirasi tentang Resto/ Cafe Galeri Sejarah bisa datang dari kota yang jauh tak terduga. Cafe dimana sosok seorang tokoh bisa didekatkan ke khalayak dengan cara yang santai atas inisiatif keluarga sang tokoh.

Rumah kediaman Tjilik Riwut ini, oleh anaknya dijadikan Resto Galeri /Museum perjalanan Tjilik Riwut. Rumah ini jadinya berfungsi tiga. Sebagai situs sejarah rumah seorang tokoh, sebagai museum untuk memerkan benda benda sejarah milik sang tokoh dan sebagai resto/ cafe tempat orang sambil enak makan minum santai menatap atau berdialog dengan masa lalu perjuangan tokoh penting Kalimantan.

Di galeri sejarah ini kita bisa melihat tulisan tangan Bung Karno kepada Tjilik Riwut , belasan foto foto kedua tokoh ini, pakaian perjuangan Tjilik Riwut dan peralatan lainnya seperti layaknya sebuah museum. Juga ada etalase buku buku sejarah dan pojok souvenir Kalimantan.

Patik membayangkan betapa banyak kota di Indonesia memiliki tokoh sejarah, dan andainya tiap kota memiliki Cafe Galeri Sejarah seperti ini alangkah efektifnya membantu pembelajaran sejarah kepada khalayak dan generasi muda. Spirit perjuangan seorang tokoh pejuang bangsa bisa menginspirasi kita sambil menenggak kopi atau menikmati soto. Di Sibolga Sumatera Utara ada rumah pahlawan nasional Ferdinal Lumban Tobing yang namanya, seperti juga nama Tjilik Riwut, sudah diabadikan jadi nama bandara. Alangkah baiknya Rumah FL Tobing yang letaknya sangat strategis di pusat kota Sibolga bisa dibuat mirip Cafe Tjilik Riwut ini. Rumah FL Tobing itu kini tidak menjadi apa apa berkaitan pembelajaran dan memori sejarah. Pun di Prapat dan Brastagi ada rumah tahanan Bung Karno yang dikelola Pemprovsu secara eksklusif dan tertutup untuk pejabat yang menginap dan sulit diakses publik.

Lama patik menatap tulisan tangan Bung Karno di resto itu, ah di resto, bukan di Arsip Nasional atau Museum atau perpustakaan yang gersang. Yang menginspirasi dari Galeri Tjilik Riwut di Palangkaraya ini adalah perlunya komunitas sejarah di berbagai kota membuat cafe sejenis (tak harus rumah sang tokoh, bisa gedung gedung tua yang terlantar), menabalkan nama tokoh sejarah di kota itu dan menampilkan sejarah kejuangan sang tokoh bagi nusa dan bangsa. Sejarah bisa dipelajari dan dihayati dengan santai , apakah sambil minum bandrek, makan lontong malam atau sombam ikan sembilang.

Di pojok Medan bisa dibuat Cafe Galeri Sejarah : Naga Bonar/Kopral Bejo (tokoh legendaris perang Medan Area), P.Telaumbanua, SM Amin atau bahkan Cafe Galeri Sejarah Maluddin Simbolon. Di Binjai bisa dibuat Cafe Tengku Amir Hamzah, di Stabat ada Cafe Sejarah Tuan Matsjeh. Dan seterusnya daftar panjang kota kota lain dengan tokoh tokoh yang redup di telan masa dan ketidak pedulian. Bisa juga tidak tentang tokoh tapi tentang berbagai peristiwa sejarah di kota. Siapkan mereka yang berjiwa bisnis mengelolanya , undang komunitas sekolah dan anak anak muda. Tapi ah, jangan ingat ingat kita punya pemerintah di kota. Komunitas atau perorangan saja bergerak untuk Cafe Galeri Sejarah ini. (Ichwan Azhari)

sumber : https://www.facebook.com/Dr.IchwanAzhari/posts/329709410760577

Add Comment